Sabtu, 29 Maret 2014

kisah cinta seorang penari lengger

ini cerpen pertama gue wka agak aneh si:v



Ini contoh cerpen aku. Kalo kalianada tugas bikin cerpen kalian bisa liat contoh yang aku bikin

aku kasih tips bikin cerpen yang baik dan mudah yaa
1. Kalo mau nulis kalian tuh gausah terlalu banyak mikir yang susah susah liat aja yang ada disekitar kalian. Misal kalian baru pulang sekolah kecapean dll itu jugabisa dijadiin cerpen loh tapi harus dibuat yang lebih ngarang lagi di lebay2in gapapa asalkan jatuhnya ngga alay
2. Kalo kalian mau ngambil dari kisah hidup kalian, itu jangan murni kisah kalian. Ditambah2in lebih di dramatisir. Karna kalo murni cerita kalian, bakalan jadi aneh.
3. Liat sekitar kalian, perbanyak referensi dari novel/ biku buku semacamnya
4. Bshasanya jangan berbelit2 males bacanya. Diksi/ pilihan kata harus tepat
ini contohnya cerpen yg gua buat utk tugas basindo silahkan baca semoga dapat terinspirasi



Kisah Cinta Seorang Penari Lengger

Reiki Reinaldi Eka Putra
Bin Abdullah Pradipta
15 Desember1995 – 7 September 2013

Ku tatap sekali lagi nisan yang sudah berdiri tegak itu. Rasanya mataku sudah enggan mengeluarkan air mata lagi. Aku hanya dapat menatap lekat tulisan yang terpampang di nisan tersebut. Dan rasanya enggan aku melangkahkan kakiku untuk pergi. Aku ingin terus menemanimu disini. Di peristirahatan terakhirmu.
***
Hidup ini semakin tidak adil bagiku. Ingin rasanya aku bunuh diri. Meninggalkan dunia yang fana ini. Mungkin kalian akan menganggapku perempuan payah atau apalah itu tapi inilah aku dan inilah hidupku. Namaku Qania Kirana Larasatri. Aku tak tau lagi bagaimana harus menjalani hidupku setelah kematian ibuku. Sekarang aku hanya tinggal dengan seorang adiku, Revina Larasati Kinanti dan dia satu-satunya tujuanku untuk hidup. Aku sangat menyayanginya lebih dari apapun sekarang ini. Ayahku telah pergi entah kemana. Ibu bilang, Ayah sudah meninggal dan aku tau ibu berbohong. Tapi apa salahnya aku mempercayai cerita ibu? Toh aku juga tidak ingin mengenal laki-laki bajingan yang telah meninggalkan aku, Ibu dan Laras.
Ibu memintaku untuk meneruskan pekerjaannya. Penari Lengger. Membayangkannya saja sudah membuatku muak. Setiap malam aku harus menggoyangkan badanku dari desa ke desa. Dan aku yakin banyak laki-laki mata keranjang yang akan menggodaku. Tapi kalau tidak kulakukan akan makan apa kita nanti?  Bagaimana nasib Laras? Aku juga tidak mau mengkhianati pesan Ibu yang sudah terlanjur kuiya-kan.
Dengan berat hati aku mulai menari malam ini. Ketika alunan gamelan mulai berbunyi, aku mulai melenggak-lenggokkan badanku. Benar saja, laki-laki mata kranjang mulai menggodaku. Mereka memberiku saweran dari 1000 rupiah sampai 100.000 rupiah. Sungguh aku sangat tidak kuat dengan keadaan ini. Ingin rasanya aku menonjok kepala keparat mereka satu per satu tapi pasti Pak Joko, bosku, akan memecatku. Dan bisa saja mereka menuntutku. Jadi, aku terus melenggak-lenggokkan tubuhku mengikuti alunan musik gamelan.
Tepat pukul 01.00 WIB aku sudah berganti pakaian dan beranjak pergi setelah mengambil jatahku malam itu. Muak rasanya aku berlama-lama di tempat itu, kataku dalam hati. Sebelum itu, aku berniat ke Apotek yang buka 24 jam untuk membeli obat untuk Laras. Kondisinya saat ini panas demam tak menentu.
Saat aku sampai di Rumah, Laras sudah tertidur pulas. Senyum singkat terlintas di bibir kecilku saat melihatnya tidur. Aku tidak mau mengganggunya. Jadi kuletakkan obat itu di meja kecil disamping kasurnya. Aku sangat lelah malam ini. Tak ada lagi yang terlintas di otakku selain tidur. Aku langsung menuju kamarku, merebahkan badan dan menarik selimutku. 5 menit kemudian aku sudah berada dalam alam bawah sadarku.
Sepulang sekolah aku langsung menuju kerumah. Tempat teraman dan ternyaman dalam hidupku saat ini. Karna, sampai aku kelas 1 SMA pun, aku belum pernah memiliki teman. Kehidupan yang menjenuhkan sebenarnya.
“Mba Nia! Mba Nia!” Tiba-tiba ada seseorang memanggilku. Ternyata Bu Maudi, tetanggaku.
“Eh iya ada apa bu?” jawabku.
“Eh anu itu mbaa, itu anu, anu apa namanya anu,” jawab Bu Maudi gagap membuatku semakin penasaran.
Iya, ada apa bu?” aku menjawab dengan nada tidak sabar.
“Anu itu mba tadi mba Laras itu, pingsan di depan rumah terus sekarang sudah dibawa ke rumah sakit,” jawab bu Maudi dengan tergagap.
Deg! Rasanya jantungku berhenti berdetak. Tak terbayang olehku kalau satu-satunya orang yang kumiliki, satu-satunya harapan hidupku harus pergi meninggalkanku. Hidup ini memang sangat tak adil bagiku. Mungkin lebih baik aku mati. Daripada aku hidup tanpa ada tujuan hidup. Tanpa mengganti seragam putih abu-abu ku, aku pergi ke Rumah Sakit Sehat Bersama.
Ternyata Laras positif terkena typus jadi dia harus dirawat di rumah sakit beberapa hari kedepan. Syukurlah dia tidak terkena penyakit seperti yang aku bayangkan sedari tadi. Lalu aku mulai berfikir, bagaimana aku bisa membayar biaya rumah sakit ini? Mana ini rumah sakit mahal lagi. Ketika sedang asik dengan lamunanku tiba tiba seseorang menepuk punggungku.
“Hei kok ngelamun aja? Adek kamu lagi sakit ya? Sakit apa?” Sepertinya lelaki ini yang memperhatikanku sedari tadi. Tapi siapa dia? Huh tampaknya dia anak orang kaya pasti dia mau sombong deh. Ngapain juga dia di Rumah Sakit paling juga sakit pilek dasar orang kaya.
“Heloooo,” ulangnya.
“Eh iya adikku lagi sakit kenapa?” jawabku dengan sedikit ketus.
“Ya engga, tanya aja. Oiya, aku kenalin Reiki Reinaldi Eka Putra panggil aja Eki, Kau?” katanya sambil mengulurkan tangan. Aku menyambut tangannya.
“Nia,” jawabku singkat. Dia mulai mengajakku berbincang-bincang. Awalnya aku hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat dan jutek tapi karena dia cerewet dan selalu mengoceh, jadi aku berusaha mengimbangi obrolannya.
Aku mulai mencurahkan isi hatiku padanya walaupun aku baru mengenalnya. Rasanya seperti aku telah mengenalnya lama. Aku baru pernah sedekat ini dengan orang, dan memiliki teman untuk mengeluarkan uneg-unegku. Sepertinya, dia anak orang kaya yang ya, tidak seperti yang aku bayangkan. Dia cukup baik dan asyik. Tapi sepertinya dia tidak pernah mengerti yang kurasakan.
“Kamu ngga akan tau laah kamu tuh anak orang kaya dan ngga akan tau apa yang aku rasain. Aku harus hidup tanpa kedua orang  tua dan menghidupi adikku dengan pekerjaan yang menjijikan yang sangat  tidak aku inginkan. Ah rasanya aku ingin mati saja,” curhatku.
Hus jangan gitu, Aku tau cobaanmu itu belum seberapa kok Ni.” Kata-kata itu rasanya mudah saja di keluarkan dari mulutnya tanpa tau apa yang aku rasakan.
 “Coba kamu, segala kebutuhan terpenuhi, mau apa tinggal bilang, rumah mewah, mobil mewah, sekolah juga pasti disekolah mahal iya to?” tapi Eki malah mencubit pipiku.
“Sok tau kamu haha,” jawabnya sambil tertawa kecil.
“Ka Niaa...” Tiba-tiba ada suara dari dalam memanggilku. Aku langsung menuju ke kamar dan menemui adikku yang sudah terbangun dari tidurnya.
“Iya dek?” jawabku.
“Boo mana kak?” Huh lagi-lagi dia menanyakan boneka kumulnya itu. Pernah aku mencoba untuk membuang boneka lusuh itu. Tetapi dia malah menangis histeris. Jadi terpaksa harus ku ambil lagi si kumul itu dari tong sampah.
“Ngga kakak bawa deek tadi kakak pulang sekolah buru-buru kesini, maaf yaah...” jawabku.
Mukanya langsung berubah sedih. Bibirnya mulai melengkung kebawah. Dan matanya mulai berkaca-kaca. Aku paling tidak tahan melihat kondisinya yang demikian.
“Eh iya iya kakak ambilin deh, tapi kamu jangan nangis yaa,” hiburku.
“Yeeeeeay makasih kakak cantiik.” Senyumnya pun kembali terurai. Senyum semangat hidupku.
Aku langsung keluar dari kamarnya. Ternyata Eki masih duduk disitu sambil memainkan gadgetnya. Aku berjalan tanpa menyapanya.
“Heh heh mau kemana?” tanyanya. Aku lantas membalikkan badanku.
“Hah heh hah heh aku punya nama tau! Mau ambil boneka adikku. Kenapa?” jawabku dengan nada tajam.
“Mm.. aku ikut yaah,” katanya sambil mengerlingkan satu matanya.
Rasanya ingin aku menolaknya. Kita kan belum lama kenal. Tapi, sepertinya uangku tidak cukup untuk bolak balik. Jadi, yaa apa salahnya menerima tawarannya. Sepertinya dia cukup baik kok.
“Okeey,” jawabku singkat.
Lantas, kita berjalan ke parkiran. Aku menaiki jazz nya. Belum pernah aku naik mobil semewah ini. Mobil yang ada ac dan tv di dalamnya. Karna selama ini, mobil termewah yang aku naiki, ya hanya mikrolet.
Di sebuah perempatan, ada anak kecil yang kurus, dan kumuh mendekati mobil Eki. Dia menengadahkan tangannya meminta belas kasih. Eki langsung membuka jendela dan memberikan uang 5000 Rupiah
“Tuh Ni, liat deh mereka,” katanya tiba-tiba.
“Iyaa aku liat, kenapa?” jawabku.
“Kasian ya mereka. Nih aku kasih tau ya, yang punya hidup suram itu ngga cuma kamu. Banyak orang diluar sana yang hidupnya lebih keras. Mereka ya, udah ngga ada orang tua, ngga sekolah, kelaperan, ngga punya rumah, udah gitu dipaksa kerja lagi.” Sepertinya dia mulai menasihatiku
“Mau nasehatin nih mas critanya?” jawabku dengan nada bercanda sambil memukul kepalanya sangat pelan.
“Eh gausah mukul kepala juga doong aku ngga suka.” Tiba-tiba dia marah padaku
“Eh sorry Ki, aku kan cuma bercanda,” jawabku meminta maaf.
“Iya udah gapapa tapi jangan diulangin ya, eh tapi gua serius loh, tuh kamu liat 2 orang yang disana ngga? Itu yang badannya gede tatoan. Mereka itu dipaksa kerja sama mereka. Uang hasil mereka kerja juga sebagian besar diambil mereka. Kasian kan?” nasehatnya lagi.
Aku hanya bisa terdiam dan terhenyak mendengar perkataannya. Ternyata ada juga orang kaya yang peduli pada kehidupan sosial di sekitarnya. Kuakui, memang banyak orang yang hidupnya lebih keras dariku. Sepertinya laki-laki yang baru kutemui 2 jam yang lalu ini telah membuka pikiranku bahwa tidak hanya aku yang memiliki hidup seperti ini.
Sesampainya dirumah, aku langsung mengambil Boo dan semua perlengkapan yang kubutuhkan untuk dirumah sakit. Ku tata rapi barang-barang itu dalam tas. Setelah semua selesai, aku dan Eki kembali ke rumah sakit.
Satu minggu sudah Laras di rumah sakit ini. Aku mulai memikirkan lagi bagaimana aku membayar semuanya? Darimana aku mendapatkan uang sebanyak ini? Untuk makan saja kita kekurangan. Aku langsung menuduk lemas.
”Hei ngelamun aja neng? Tenaang semuanya udah aku selesein kok,” katanya sambil mengedipkan matanya. Darimana dia tau aku sedang memikirkan hal itu?
“Heh! Apaan sih? Siapa suruh kamu bayarin rumah sakit ini? Jangan lancang kamu aku gamau punya utang budi sama orang.” Aku benar-benar tidak bisa meredam amarahku.
“Siapa bilang kamu utang budi? Kamu kan utang uang,” jawabnya sambil cengengesan.
“Maksudnya?” jawabku tidak mengerti.
“Nih ya, aku pinjemin kamu, buat pacuan kamu, biar kamu lebih semangat cari duitnya tapi kamu bisa bayar kapan-kapan kok santai ajaa,” jawabnya dengan santai.
Kuakui laki-laki ini memang laki-laki yang sangat baik. Laki-laki sempurna. Udah kaya, ganteng, pemurah, cerdas, ngga pamrih, punya jiwa sosial tinggi lagi. Ah apasih aku ini dia kan tidak sederajat denganku, jadi tidak boleh aku menyukainya.
***
Dua tahun setelah pertemuanku dengannya. Dengan orang yang telah mulai membuka pikiranku. Yang selalu menjagaku dan membuatku untuk tetap barada di dunia ini. Untuk tidak selalu mengeluh menjalani hidup.
Tapi terkadang, dia sering sekali menghilang dan tak bisa dihubungi. Aduh dasar cowok unik emang. Sebenernya bukan unik sih, aneh.
”Niaa! Temenin yuk, ke suatu tempat!” Gila emang nih cowo masuk rumah ngga salam, main nyelonong aja.
“Kemana? Ngga ah mager.” Aku malas sekali kalau harus pergi sekarang.
“Kamu tuh pemalas banget ayuh cepet deh!” Dia langsung menarik tanganku.
Udah gila sadis lagi nih cowo main tarik-tarik tangan orang aja. Jadi aku langsung ganti baju dan mengikuti ajakannya.
Sepertinya Eki akan mengajakku ke panti asuhan khusus penyandang cacat. Ku lihat di papannya. PANTI ASUHAN PENYANDANG CACAT KASIH IBU.
“Eki kamu lama banget sih katanya baliknya bakal cepet gimana sih,” ucap seorang ibu yang sepertinya mamahnya.
“Iya, macet mah. Oiya ini Nia yang sering aku ceritain ke mamah itu looh.” Aku langsung kaget mendengar ucapan Eki barusan. Jadi selama ini Eki sering cerita tentang aku?
“Iya saya Nia tante,” jawabku sambil menyalami ibunya.
“Wah cantik juga ya. Pinter juga kamu pilih cewe. Oiya kenalin aku Sarah, kakaknya Eki. Eh anak-anak udah pada nunggu tuh, masuk yuk.” Pasti ini Kakak yang pernah Eki ceritain.
Sungguh tak ada kata yang mampu terucap dari mulutku saat memasuki panti asuhan itu. Para penyandang cacat yang pastinya tidak memiliki orang tua, sedang bermain-main, tertawa, ada pula yang sedang bermain piano. Sungguh permainan yang sangat  menyentuh hati.
“Liat deh mereka Ni mereka ngga punya anggota tubuh yang lengkap dan ada juga yang anggota  tubuhnya lengkap, tapi ngga berfungsi. Udah gitu mereka ngga punya orang tua lagi. Tapi liat mereka, mereka masih sanggup tertawa bahagia dan melupakan beban mereka.” Lagi-lagi dia mencoba untuk membuka pikiranku.
Memang banyak sekali orang yang kehidupannya lebih rendah dari aku. Mungkin selama ini pikiranku saja yang terlalu sempit. Dan kulihat mereka menjalani hari seperti tanpa beban. Masih sanggup tertawa dan tersenyum. Berbeda sekali denganku. Yang selalu mengeluh dan mengeluh. Aku memang terlalu payah menjalani hidup ini.
Tiba-tiba senyum simpul terlintas dibibir kecilku.
Setelah acara di panti itu selesai, Eki mengantarkanku pulang dengan kakak dan ibunya juga. Aku sebenarnya agak canggung, karna keluarga ini tidak pernah kehabisan bahan obrolan.
“Eh Ni, kamu itu penari Lengger ya? Wih asik yah. Berarti kamu jago banget nari ya?” Aku sontak kaget karna tiba-tiba kak Sarah bertanya begitu padaku, aku tau pasti Eki yang memberitahunya, sial. Dan apa? Dia bilang ASIK? Haha dasar orang kaya nggatau aja susahnya orang cari duit.
Hehe iya kak,” akhirnya hanya senyum kecil yang dapat aku keluarkan.
Aku punya tawaran menarik loh, aku punya temen dia itu punya wedding organizer gitu dan dia lagi butuh penari buat ngisi kalo ada acara-acara gitu. Kamu mau ngga?” tanya Kak Sarah.
Waah mau mau kak. Eh, tapi pasti bakal sibuk banget ya kak? Aku kan udah kelas 3 mau ujian juga, gimana ya?” Aku sebenarya senang sekali mendengar tawaran Kak Sarah, tapi bagaimana lagi tentulah yang harus utama kupikirkan adalah sekolahku yang mungkin bisa mengubah hidupku ini.
“Yaudah sante aja, nanti kakak bilang temen kakak dulu, kakak bilang kalo kamu lagi fokus buat UN dulu. Dia juga nyante kok ngga butuh cepet juga,” jawab Kak Sarah.
“Ya ampuun makasih banget ya kaak. Jadi nggaenak nih.” Aku senang sekali, itu artinya, aku tetap akan menjalani pesan ibu walau dengan jalan yang berbeda yang mungkin lebih terhormat.
Malam ini, aku selesai menari agak lebih telat dari biasanya. Aku langsung berganti pakaian di ruang ganti. Tidak seperti biasanya, tempat ini sepi sekali. Tak ada orang sama sekali, padahal biasanya banyak perias/penari yang berganti pakaian disini. Bulu kudukku mulai berdiri saat aku mulai melepas pakaianku.
Tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang. Aku sangat kaget dan hendak berteriak. Tapi orang itu membekap mulutku.
“Nia cantik, maukah kamu menari untukku malam ini? Aku akan bayar kamu 5 kali lipat. Ayolah sayaang.” Aku mengenali suara itu. Ya itu suara Pak Joko. Bos ku. Aku benar-benar takut. Aku tak tau apa yang akan dia lakukan padaku. Aku hanya ingin berteriak sekencang-kencangnya, tapi aku tak bisa.
Tiba-tiba Pak Joko melepaskan pelukan dan bekapannya. Aku langsung membenarkan bajuku. Aku membalikkan badanku. Ternyata Eki yang menonjoknya sampai terjatuh. Dalam waktu yang lumayan lama, mereka terlibat dalam pertengkaran yang cukup heboh. Tak ada orang yang datang untuk melerai apalagi menolong. Hanya kita bertiga dalam ruangan pengap itu.
Akhirnya, Pak Joko mengalah dan pergi.
Kamu nggapapa kan Ni? Ngga ada yang luka kan? Dia belum sempat ngapa-ngapain kamu kan?” seruntutan pertanyaan dari Eki berputar dalam kepalaku. Sebenarnya aku masih sangat shock dan belum sanggup memahami keadaan.
I’m okeey,” jawabku dengan nada masih sedikit takut.
Kamu ngga papa Ki? Eh makasih ya Ki, tapi kok kamu bisa ada disini sih Ki?” tanyaku.
Sante lebam biasa kok. Tadinya aku mau balikin dompetmu, tapi kamu lagi disini, aku nunggu kamu pulang, eh kamu ngga pulang-pulang. Aku sama Laras khawatir jadi aku susul aja kamu kesini,” jawabnya sambil menyodorkan dompetku.
Yaelah besok juga bisa kali, balikinnya,” jawabku
Aku juga mau ngomong penting banget sama kamu. Dan aku maunya ngomong malem ini.” Tiba-tiba mukanya berubah serius.
Ngomong apa?” tanyaku.
Aku suka sama kamu. Kamu mau nggajadi pacarku?” Aku sungguh tak menyangka dia mengucapkan kata itu padaku. Hal yang sangat aku harapkan.Tapi sebenarnya aku juga bingung. Aku tak mungkin mengatakan tidak untuk orang yang tidak hanya membuka pikiranku, tetapi juga hatiku, yang telah membuat hatiku jatuh kepadanya.
Mmm... but i think yes,” jawabku agak ragu.
yeaaaaaaay makasih sayaang.” Dia langsung memelukku erat sekali. Sampai topi yang dia kenakan lepas. Seketika aku langsung tertawa terbahak-bahak.
Apaan sih? Gua ganteng ya kaya gini? Style baru nih!” katanya sambil membanggakan diri.
Botak aja bangga lu haha.” Sebenarnya, walaupun botak dia tetap ganteng juga kok.
Saat di jalan tiba-tiba darah mengalir dari hidungnya.
“Eki! hidung kamu kenapa?” triakku kaget,
Engga gapapa. Udah sampe udah yuk turun aja,” dia menjawab dengan santai sambil turun dari mobil.
Tapi, saat turun dia malah jatuh ke tanah tak sadarkan diri. Aku benar-benar panik. Aku langsung menelpon Kak Sarah yang nomernya baru ku dapat siang tadi. Lalu dia dibawa ke Ruang ICU Rumah Sakit Sehat Bersama.
Aku duduk di ruang tunggu. Aku benar-benar merasa bersalah. Bagaimana kalau penyakitnya parah? Pasti ini semua karna aku. Tiba-tiba Kak Sarah mendekatiku.
“Ni, aku tau Eki ngga pernah mau crita ini ke kamu. Dia emang ngga mau kamu tau. Tapi cepat atau lambat kamu pasti akan tau kan? Sebenernya 3 tahun ini dia diketahui terkena kanker otak. Dan dia crita ke aku, When he first saw you he felt fall in love with you. Katanya, dia nemuin cewe yang sayapnya lagi rapuh. Karna itu dia pengin jagain kamu, ada disisimu, dan bikin kamu kuat terus. Dia ngga mau kamu tau tentang penyakitnya. Dan dia juga bilang, dia bikin aku semangat nglewatin penyakitku ka. Sejak itu juga, dia jadi mau di chemo. Aku benar-benar kaget dan shock mendengarnya. Mulutku benar-benar terkunci. Tak ada yang mampu kuucapkan
Kasian dia Ni, sejak kita tau dia sakit, mamah minta dia buat homeschooling. Padahal dia baru aja masuk SMA.Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Taun kemarin dia lulus dengan nilai cukup memuaskan. Sebenernya dia pingin nglanjutin kuliah di Hubungan Internasiaonal, dia pingin banget jadi diplomat. Tapi mamah ngga ngizinin dia,” Kak Sarah menjelaskan lagi.
Cukup menjawab banyak pertanyaanku. Kenapa waktu itu dia ada dirumah sakit, kenapa dia ngga suka dipegang kepalanya. Kenapa dia selalu senyum/tertawa kalo aku bilang hidupnya itu mudah, kenapa dia sering ngilang, dan kenapa rambut dia sekarang botak. Dan kurasa semua jawabannya adalah, dia terkena kanker otak. Dia mencukur rambutnya sebelum rambutnya rontok karna chemo. Dia ternyata memiliki hidup yang cukup keras. Dan sekarang aku juga tau kalau dia juga udah ngga punya papah. Papahnya ninggalin dia Kak Sarah dan mamahnya buat nikah sama cewe lain sejak dia kecil.
Saat ini, aku hanya ingin menjaganya, selalu ada disampingnya dan memegang tangannya.
Nia..” Aku langsung terbangun dari tidurku.
“Ki, kamu udah bangun? Kamu mau makan? Atau minum? Sinih biar aku ambilin,” aku mulai mengoceh.
Ngga usah Ni, aku lagi ngga pengen apa-apa. Ni, kamu sekarang udah tau kan?” dia memegang tanganku lagi.
Iya Ki, aku tau semuanya. Kak Sarah udah crita semuanya sama aku,” jawabku. Dia hanya tersenyum.
Bener kan Ni, hidupku itu ngga mudah seperti yang kamu bayangin? Allah itu menciptakan manusia udah sesuai porsinya, ngga semuanya dikasih bahagia/dikasih sedih. Orang kaya juga ngga mesti bahagia, begitupun orang miskin ngga mesti suram hidupnya,” ucapnya.
Laki-laki ini benar-benar telah membuka jalan pikiranku. Pikiran butekku ini. Gadis yang hampir bunuh diri karna tak sanggup menjalani hidup ini, kini telah terbuka pikirannya karna seorang laki-laki kaya yang nyatanya hidup yang harus dia jalani juga sangat berat.
Iya Ki, makasih banget ya kamu udah buka pikiranku. Kalo ngga ada kamu, mungkin aku udah mati kali. Haha.” Kataku sambil tertawa kecil.
Kan karna kamu juga aku masih bisa nglewatin hari-hari ku ini. Yaa, kita sama-sama laah. Oiya, sayang ngga sekolah? Kamu kan satu bulan lagi UN?” belum terlintas di benakku tentang hal itu. Ah aku benar-benar tidak bisa fokus dengan hal itu sekarang ini.
“Nia, please do the best for me, aku yakin kamu bisa Ni,” pintanya padaku.
Okey, i’ll do the best for you.” Sebenarnya aku benar-benar belum siap menghadapi ujian. Apalagi nilaiku mulai menurun sejak kematian ibu. Tapi sekarang akan kuusahakan sekuat tenaga yang bisa aku keluarkan.
Tapi bolehkan aku nemenin kamu chemo hari ini?” pintaku.
Iya boleh doong masa pacar aku nggaboleh nemenin haha.” Cowo ini benar-benar unik. Saat sakit, masih saja dia menggombal.
Aku menemaninya chemo hari ini. Yang aku tau chemotherapy itu rasanya sakit sekali, bisa membuat tangan kita menghitam dan mengalami kerontokkan pada rambut. Dan biasanya sehabis chemo akan muntah-muntah lemas sampai tak kuat bangun hingga beberapa hari.
Tapi melihatnya di chemo ,seperti menghilangkan semua pengetahuanku tentang semua itu. Dia tetap berusaha tersenyum sambil memegang tanganku. Sesekali dia memegang tanganku sedikit lebih keras. Tak pernah aku menemui laki-laki setegar laki-laki ini.
Sepertinya, efek setelah chemo itu memang benar. Dia mulai muntah-muntah. Sepertinya, saat-saat itu yang paling dia butuhkan. Jadi dengan setia dan sabar aku menemaninya dan melayaninya. Kira-kira seminggu efek chemo itu berlangsung. Begitulah seterusnya. Aku terus menjaganya sambil terus belajar.
Sayang, kamu minggu depan udah ujian kan? Udah, kamu pas mau ujian gausah kesini aja dulu, kamu fokus sama ujian aja. i’m okey here babe, aku doain kamu terus kok Ni.” Eki tiba-tiba berkata seperti itu saat aku sedang mengupaskan buah untuknya.
Tapi sayaang aku kaan...” saat aku belum menyelesaikan ucapanku, Eki memotongnya.
Do the best for me okeey,” selanya sambil memakan buah yang ku kupaskan untuknya.
Aku menuruti pintanya. Selama aku ujian, aku tidak mengunjunginya. Aku benar-benar fokus pada ujianku. Aku menjawab soal-soal dengan mantap sambil terus memikirkan namanya dalam setiap jawaban yang ku hitamkan.
Sampai di hari terakhir ujian, saat anak lain bersorak sorai aku lebih memilih untuk keluar sekolah dan menunggu mikrolet. Aku langsung menuju ke rumah Eki. Tanpa melepas sepatu, seperti yang pertama kali kulakukan saat masuk rumah ini, dan tanpa mengucap salam aku masuk rumah itu.
Hey hey nyolong aja nih bocah. Gimana? Udah selese ujiannya? Gampang? Bisa kan?” seperti biasa eki langsung menyambar dengan serentetan pertanyaan.
 Bisa Alhamdulillah,” jawabku singkat.
“Syukur deh. Semoga dapet yang terbaik yaah,” ucapnya.
Cukup lama aku menunggu hasil ujian ku. Satu bulan, dua  bulan kira-kira aku menunggu. Saat itu aku terus menjaga Eki. Menemaninya dalam hari-hari sulitnya saat chemo. Aku selalu siap siaga saat dia mual dan muntah, saat dia kedinginan, terutama saat dia membutuhkan tangan untuk dia pegang.
Dan soal pekerjaanku, sepertinya aku sudah melupakan pekerjaan lamaku. Sejak kejadian itu, aku mengundurkan diri dan menerima tawaran Kak Sarah. Pekerjaan yang lebih bernilai, bertemu orang-orang yang lebih sopan dengan gaji yang jauh lebih menguntungkan.
Dua bulan yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Waktunya mendengarkan pengumuman. Semua siswa dan wali murid berkumpul di Auditorium untuk mendengarkan pengumuman kelulusan. Untungnya, ada yang mau menjadi wali ku. Tidak lain, Tante Rere, mamahnya Eki.
Saat Kepala Sekolah menaiki mimbar, aku benar-benar deg-degan.
“Dan peraih nilai UN tertinggi taun ini adalah... Qania Kirana Larasatri dari kelas XII IPA 4!! Dengan perolehan nilai 39,89 dan merupakan nilai tertiggi di Provinsi Jawa Tengah!”
Rasanya semua organ tubuhku berhenti bekerja. Mulut yang sedari tadi mengucapkan doa-doa tiba-tiba terhenti. Aku seperti tidak mendengar suara apapun.
Tanpa sadar aku bersujud sambil meneteskan air mataku. Saat kepala sekolah memintaku kedepan, rasanya aku sudah tak sanggup berjalan. Semua tubuhku lemas saking kagetnya. Entah angin apa yang mendorongku kedepan. Ini buat kamu Ki kataku dalam hati.
Tiba-tiba hp tante Rere bergetar. Dia mengangkat telepon dari seseorang. Dan tiba-tiba dia seperti orang terkena peluru. Diam tak berkata apapun. Tapi dia masih sadar dan sempat menyambar tanganku.
Ternyata mobil tante Rere menuju ke RS Sehat Bersama. Sesampainya di Rumah Sakit, Tante Rere berjalan sangat cepat. Kucoba menyeimbangi langkahnya. Dan kami sampai di Ruang ICU.
Aku melihat semua orang di ruangan itu sudah menangis. Dan di kasur ada tubuh yang ditutup dengan kain kafan sepenuhnya. Aku benar-benar tidak mengerti. Saat Tante Rere membuka kain kafan itu, rasanya organ tubuhku benar-benar berhenti bekerja. Nafasku tersendat. Tak sanggup aku melihat wajah itu ditutup dengan kain putih itu. Aku langsung lemas dan menitikkan air mataku.
“Maaf bu, kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi tuhan berkehendak lain. Ternyata, saat dia bertengkar dengan orang waktu itu, kepalanya terpukul cukup keras. Tapi kami baru mengetahuinya sekarang, dan itu sudah terlambat.” Mendengar ucapan dokter itu, tante Rere menangis histeris. Aku hanya lemas tak mampu bersuara.
***
Langit terus meneteskan air. Mengiringi kepergiannya. Semua pelayat satu persatu beranjak pergi. Tapi tidak denganku. Aku belum bisa dan belum sanggup beranjak.
Kenapa kamu cepet banget ninggalin aku? Katanya kamu mau jagain aku? Terus kenapa kamu pergi? Kamu udah bisa ngubah jalan pikiranku, lalu pergi gitu aja? Aku udah berusaha dan belajar biar bias bikin kamu bangga. Sekarang aku mau kasih ini buat kamu, tapi kenapa kamu malah pergi? Kenapa? Jahat kamu Ki! Bahkan aku baru mau bayar hutangku, tapi kamu udah ngga ada kamu pergi untuk selama-lamanya. I’m alone here, Ki. Lontaran-lontaran itu terus bergejolak dalam hatiku.
Tiba-tiba hujan berhenti begitu saja. Lalu aku menengadah keatas.
“Dia gamau liat kamu nangis ni, dia mau liat kamu teresenyum bahagia, dia ngga bakal tenang kalo kamu kaya gini.” Ternyata hujan tidak berhenti. Kak Sarah yang memberi payung kepadaku.
“Tapi sekarang aku sendiri disini kak..”
“Kamu ngga sendiri ni, ada adik kamu Laras, dia tujuan hidupmu kan? Ada aku dan mamah juga yang siap bantu kamu. Udah kamu ngga usah sedih sekarang kamu liat ke nisan dia terus kamu senyum. Pasti dia bakal seneng banget.” Kak Sarah lalu melihat nisannya sambil tersenyum.
Lalu aku ikut melihat nisannya sambil tersenyum dan berkata dalam hati. Makasih sayang, walaupun kamu ngga ada kamu udah ninggalin orang-orang baik buat aku. I love you so much,  my hero. Reiki Reinaldi Eka Putra, selamat jalan.

Afifah Shofia P. A.
 04 / 9E

Tidak ada komentar:

Posting Komentar